By: @GHeartTone
Terkadang..
dari bias sang siang...
Diantara
bulir-bulir dan terang...
Selepas
bumi dibasuh awang-awang..
Engkau
datang..
.............
Kau
gurat corak, torehan Almalik
Kau
senyuman langit yang terbalik
Melengkung
diatap bumi yang larik
Tertegun,
enggan lesu mata melirik
.............
Melihatmu...
Uraikan
benakku yang gundah
Buyarkan
jiwaku yang goyah
Lenyaplah
segala resah
Terengkuh
seluruhnya gelisah
..........
Wanita Bergaun Hitam
Mellan Arana...
Selalu, jariku bergerak menorehkan selarik
aksara berima. Menuangkan ucap yang meskinya bertara. Rasa yang tak terdengar,
dan lisan yang berat untuk bicara. Hanya itulah caraku melampiaskan semua
ingatan -- hampir penuh bloknotku berseratkan berisi tentang dirimu.
Sekarang diatas meja berhiaskan satu pigura dibawah temarannya cahaya
lampu, bersama deru suara kaki sang waktu mendampingi lengang diriku. Mata yang
tak lelah memandangi foto seorang wanita yang sering aku bawa ke dalam mimpi,
-- itu adalah dirimu Mellan.
Rambut hitammu yang tergerai memanjang,
tersisir angin pantai, Tubuh yang semampai. Putihnya pasir tak beda dengan
putihnya kulitmu tambah melekat gaun selutut berwarna hitam.
(Hitam...)
Selintas orang yang melihat dirimu pasti akan heran, sebab biasanya di
pantai lebih pas memakai pakaian berwarna cerah dan santai tapi kamu malah
memakai gaun dan lebih anehnya berwarna hitam, lebih pantas di bawa untuk acara
pesta. Aku rasa pantas jika aku sebut
itu (aneh).
Padahal seingatku sebelum ke berangkatan kita ke lombok, kantor
memberikan jeda dua hari untuk
mempersiapkan segala sesuatunya untuk kita nanti berada disini. Tetapi kenapa kamu
mengenakan gaun hitam di pantai. Apa tak ada baju lain yang lebih ringan untuk
kamu pakai. Aku bingung.
Lihatlah banyak pasang mata yang memandangmu
dengan penuh keanehan.
Sempat aku menanyakan padamu, tapi kamu bilang bahwa kamu suka warna
hitam dan terserah apapun yang kamu kenakan adalah hakmu.
Aku hanya mengangguk menanggapi alasan darimu.
Sebernarnya aku pun tak masalah dengan apa pun
yang kamu kenakan. Bagiku kau tetap terlihat menawan.
Terlintas lisan ingin memuji dirimu '' Kau Cantik Mellan''. Tapi, Ahk.
Tentu itu takkan benar-benar aku lakukan, terlalu cilik nyaliku, yang aku bisa,
hanya berteriak dalam kata, seperti sekarang ini.
Cukup melelahkan sekaligus menyenangkan bersamamu di pantai, kamu memang
wanita yang ceria dengan tawa yang reyah. tak ku lihat raut lelah di wajahmu,
meski hampir satu setengah jam kita berdua menikmati panorama pantai di pagi
yang cerah ini. berlari kesana kemari, membangun istana pasir, dan saling
bermain air laut serta mencari Uca, Uca merupakan nama spesies dari kepiting
kecil yang terkadang mengecoh kita saat berjalan di pantai, bentuknya yang
kecil bila kita lihat sepintas hanya seperti serangga kecil, tetapi sebenarnya
itu adalah kepiting yang berjalan amat cepat.
Begitu antusiasnya kamu menggali tiap lubang
yang di jadikan tempat persembunyiaan uca, tak ubahnya seperti anak-anak saja
tak peduli gaun yang kau pakai itu, melekat banyak pasir disana sini.
Cahaya matahari masih terang, angin pun bertiup tenang, entah
rintik-rintik dari langit jatuh cukup deras tiba-tiba saja datang.
''Aduh gerimis nih, kita balik ke Hotel yuk.''
pintamu
Untuk beberapa saat aku terdiam...
Lalu
aku layangkan mata ke atas, berharap ada sesuatu dilangit sana. Sesuatu yang
terjadi akibat pembiasan sinar matahari dan air hujan. Benar saja.
'' Mellan lihat..'' tulunjukku mengacung
keatas.
'' Waaahh Pelangiiii, indah sekali......''
Kau
tersenyum merona, bagiku kau seperti pelangi saja, bahkan lebih indah darinya.
''Fotoin aku dong khollis''. rajukmu dengan
muka yang dibuat semelas mungkin.
(Aku ikuti apa pun yang kau mau Mellan).
Lekas aku ambil kamera pocket dengan pixsel 12
yang ku bawa, aku mencari angle
terbaik, aku posisikan dirimu tepat berada di bawah lengkungan pelangi.
Kemudian kutekan tombol Shutter.
cekrekkk...'' bunyi suara capture dari kamera.
Sebentar kupandang hasil jepretan tadi. Aku coba putar kamera membaliknya 180
derajat, sekilat kutemukan sesuatu yang berbeda dari bidikanku. Sesuatu yang
biasa tapi kali ini aku baru menyadarinya. Yah.Ternyata jika pelangi itu
dilihat dari sudut 180 derajat maka bentuknya akan seperti sebuah senyum,
Mungkin itu memang sebuah senyum. Yang ditanpakkan langit
Eloknya penorama pantai berpelangi beserta wanita dihadapanku yang tak
kalah mempesona dengan senyum yang merona. Benar-benar menakjubkan.
Memang momen kala itu tentulah jarang
terjadi. dan bukan kau saja semua orang pun akan melakukan hal yang
sama.
Kau
tahu Mellan hingga detik ini aku masih mengingat kenangan paling berkesan
bersamamu. Di pantai Senggigi. Lombok Utara, Mataram. Nusa Tenggara Barat.
Tok..Tok..Tok..
''Khollis... Makan malam nak, dari pagi kamu
belum makan apa-apa, nanti kamu sakit.'' itu mamahku.
Kulirik arloji, sudah pukul 07.00 malam cukup
lama aku mengurung diri dikamar sedari pagi.
Selama cacing dalam perutku belum
melakukan kudeta, kaki ini tidak akan beranjak kemana-mana.
Karena aku sedang melakukan ritual, ritual
merayakan sepi bukan nyepi.
Aku melakukan kegiatan ini bukan tanpa
alasan, hari ini tepat 1 tahun Mellan menghilang dari kehidupanku, dan kini aku
jadikan tanggal 20 oktober sebagai hari
sepi bagiku dan merayakannya seperti saat ini.
TBC…………………………………………


