Jumat, 02 Mei 2014

Senyum langit yang terbalik


 
            By: @GHeartTone





Terkadang.. dari bias sang siang...

Diantara bulir-bulir dan terang...

Selepas bumi dibasuh awang-awang..

Engkau datang..

.............

Kau gurat corak, torehan Almalik

Kau senyuman langit yang terbalik

Melengkung diatap bumi yang larik

Tertegun, enggan lesu mata melirik

.............

Melihatmu...

Uraikan benakku yang gundah

Buyarkan jiwaku yang goyah

Lenyaplah segala resah

Terengkuh seluruhnya gelisah

..........

Wanita Bergaun Hitam


         Mellan Arana...
Selalu, jariku bergerak menorehkan selarik aksara berima. Menuangkan ucap yang meskinya bertara. Rasa yang tak terdengar, dan lisan yang berat untuk bicara. Hanya itulah caraku melampiaskan semua ingatan -- hampir penuh bloknotku berseratkan berisi tentang dirimu.
       Sekarang diatas meja berhiaskan satu pigura dibawah temarannya cahaya lampu, bersama deru suara kaki sang waktu mendampingi lengang diriku. Mata yang tak lelah memandangi foto seorang wanita yang sering aku bawa ke dalam mimpi, -- itu adalah dirimu Mellan.
Rambut hitammu yang tergerai memanjang, tersisir angin pantai, Tubuh yang semampai. Putihnya pasir tak beda dengan putihnya kulitmu tambah melekat gaun selutut berwarna hitam.
   (Hitam...)
   Selintas orang yang melihat dirimu pasti akan heran, sebab biasanya di pantai lebih pas memakai pakaian berwarna cerah dan santai tapi kamu malah memakai gaun dan lebih anehnya berwarna hitam, lebih pantas di bawa untuk acara pesta. Aku rasa pantas jika  aku sebut itu (aneh).
   Padahal seingatku sebelum ke berangkatan kita ke lombok, kantor memberikan jeda  dua hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk kita nanti berada disini. Tetapi kenapa kamu mengenakan gaun hitam di pantai. Apa tak ada baju lain yang lebih ringan untuk kamu pakai. Aku bingung.
Lihatlah banyak pasang mata yang memandangmu dengan penuh keanehan.
        Sempat aku menanyakan padamu, tapi kamu bilang bahwa kamu suka warna hitam dan terserah apapun yang kamu kenakan adalah hakmu.
Aku hanya mengangguk menanggapi alasan darimu.
Sebernarnya aku pun tak masalah dengan apa pun yang kamu kenakan. Bagiku kau tetap terlihat menawan.
 
   Terlintas lisan ingin memuji dirimu '' Kau Cantik Mellan''. Tapi, Ahk. Tentu itu takkan benar-benar aku lakukan, terlalu cilik nyaliku, yang aku bisa, hanya berteriak dalam kata, seperti sekarang ini.

      Cukup melelahkan sekaligus menyenangkan bersamamu di pantai, kamu memang wanita yang ceria dengan tawa yang reyah. tak ku lihat raut lelah di wajahmu, meski hampir satu setengah jam kita berdua menikmati panorama pantai di pagi yang cerah ini. berlari kesana kemari, membangun istana pasir, dan saling bermain air laut serta mencari Uca, Uca merupakan nama spesies dari kepiting kecil yang terkadang mengecoh kita saat berjalan di pantai, bentuknya yang kecil bila kita lihat sepintas hanya seperti serangga kecil, tetapi sebenarnya itu adalah kepiting yang berjalan amat cepat.
Begitu antusiasnya kamu menggali tiap lubang yang di jadikan  tempat persembunyiaan uca, tak ubahnya seperti anak-anak saja tak peduli gaun yang kau pakai itu, melekat banyak pasir disana sini.
    Cahaya matahari masih terang, angin pun bertiup tenang, entah rintik-rintik dari langit jatuh cukup deras tiba-tiba saja datang.
''Aduh gerimis nih, kita balik ke Hotel yuk.'' pintamu
Untuk beberapa saat aku terdiam...
   Lalu aku layangkan mata ke atas, berharap ada sesuatu dilangit sana. Sesuatu yang terjadi akibat pembiasan sinar matahari dan air hujan. Benar saja.
'' Mellan lihat..'' tulunjukku mengacung keatas.
'' Waaahh Pelangiiii, indah sekali......''
Kau tersenyum merona, bagiku kau seperti pelangi saja, bahkan lebih indah darinya.
''Fotoin aku dong khollis''. rajukmu dengan muka yang dibuat semelas mungkin.
      (Aku ikuti apa pun yang kau mau Mellan).
Lekas aku ambil kamera pocket dengan pixsel 12 yang ku bawa, aku mencari angle terbaik, aku posisikan dirimu tepat berada di bawah lengkungan pelangi. Kemudian kutekan tombol Shutter.
cekrekkk...'' bunyi suara capture dari kamera.
Sebentar kupandang hasil jepretan  tadi. Aku coba putar kamera membaliknya 180 derajat, sekilat kutemukan sesuatu yang berbeda dari bidikanku. Sesuatu yang biasa tapi kali ini aku baru menyadarinya. Yah.Ternyata jika pelangi itu dilihat dari sudut 180 derajat maka bentuknya akan seperti sebuah senyum, Mungkin itu memang sebuah senyum. Yang ditanpakkan langit
     Eloknya penorama pantai berpelangi beserta wanita dihadapanku yang tak kalah mempesona dengan senyum yang merona. Benar-benar menakjubkan.
     Memang momen kala itu tentulah jarang  terjadi. dan bukan kau saja semua orang pun akan melakukan hal yang sama.
    Kau tahu Mellan hingga detik ini aku masih mengingat kenangan paling berkesan bersamamu. Di pantai Senggigi. Lombok Utara, Mataram. Nusa Tenggara Barat.


Tok..Tok..Tok..

''Khollis... Makan malam nak, dari pagi kamu belum makan apa-apa, nanti kamu sakit.'' itu mamahku.
Kulirik arloji, sudah pukul 07.00 malam cukup lama aku mengurung diri dikamar sedari pagi.   
     Selama cacing dalam perutku belum melakukan kudeta, kaki ini tidak akan beranjak kemana-mana.
Karena aku sedang melakukan ritual, ritual merayakan sepi bukan nyepi.
    Aku melakukan kegiatan ini bukan tanpa alasan, hari ini tepat 1 tahun Mellan menghilang dari kehidupanku, dan kini aku jadikan  tanggal 20 oktober sebagai hari sepi bagiku dan merayakannya seperti saat ini.


 TBC…………………………………………

Jumat, 22 Oktober 2010

Behind The Heart

by: @GHeartTone

Hati Nurani

Dibalik Hati

Bisakah kau diam nurani, aku tidak ingin berdebat. Sekarang aku sudah cukup tenang jangan kau coba pengaruhi lagi !'' suruhku


''Maaf Tuan, saya tidak bermaksud untuk mempengaruhi Anda, yang saya ingin hanya memberi nasihat..'' tutur nurani


Heiii nurani ! Aku ini tuanmu, kau itu hanya bagian kecil dari diriku jadi diamlah !.'' bentak ku

Yah tuan, saya memang bagian terkecil dari diri Anda. Tapi, sudah tugas saya sebagai penasihat untuk menyadarkan Anda, jadi izinkan sedikit saja saya bicara.'' pintanya

Baiklah, aku sedang tidak ingin marah. Untuk kali ini aku akan persilakan kau bicara, singkat saja.'' tungkasku

Terima kasih Tuan. Anda ini terlalu khawatir, sebaiknya Anda biarkan pikiran anda membentang luas ''Be Positif Thinking. Tak ada yang perlu dicemaskan disana. Semuanya akan baik-baik saja.


Hei, nurani, Kau bicara semudah itu seolah-olah amat mudah melakukannya seperti mengedipkan mata. Kau itu tak tahu bagaimana rasanya jiwaku ini yang begitu menyanyanginya, Aku begitu cemas disini.'' potongku

Tuan salah, ingat kata-kata Anda diatas, bukankah Tuan bilang saya ini bagian terkecil dari Anda ? Iyakan Tuan. Jelas saya pun merasakannya.'' timpa nurani


Hmmm.. Mungkin kau benar nurani'' balasku dengan menundukan kepala.

Yakinlah akan tulus kasihnya. Jangan biarkan ego mempengaruhi Anda, sebab yang demikian itu hanya akan membawa kerugian. Untuk sementara diamlah dulu. Biarkan waktu yang memanggil rasanya pada Anda hingga menguap dan dirinyalah yang akan berbalik merasakan apa yang Anda rasakan sekarang ini.'' lanjut nurani


Begitukah nurani ? tanyaku untuk lebih meyakinkan perkataannya

''Iya Tuan, itu jauh lebih baik, daripada Anda berpikir yang tidak-tidak. Tak ada gunanya semua itu yang ada hanya akan menambah kegundahaan saja.'' tambah nurani


Ya sudah, akan aku coba mengikuti nasihatmu itu, terima kasih. Silakan kau kembali ke dalam relung.'' perintah ku

Perasaanku mulai tenang, apa yang dikatakan oleh nurani itu benar adanya. Mulai sekarang aku sebaiknya mengungkapkan keluhku padanya. Aku akan musuhi egoku sendiri sebab si ego itu benar-benar penghasut kelas kakap dan pengompor ulung, Ocehannya hanya membawaku pada keresahan semata yang tak beralaskan fakta.


@GHeartTone
Egoku mulai berbisik. Tak kugubris, malah kubuat satu perwujudan diriku yang sedang mengacungkan jari tengah padanya. Pada Egoisme !