Jumat, 22 Oktober 2010

Behind The Heart

by: @GHeartTone

Hati Nurani

Dibalik Hati

Bisakah kau diam nurani, aku tidak ingin berdebat. Sekarang aku sudah cukup tenang jangan kau coba pengaruhi lagi !'' suruhku


''Maaf Tuan, saya tidak bermaksud untuk mempengaruhi Anda, yang saya ingin hanya memberi nasihat..'' tutur nurani


Heiii nurani ! Aku ini tuanmu, kau itu hanya bagian kecil dari diriku jadi diamlah !.'' bentak ku

Yah tuan, saya memang bagian terkecil dari diri Anda. Tapi, sudah tugas saya sebagai penasihat untuk menyadarkan Anda, jadi izinkan sedikit saja saya bicara.'' pintanya

Baiklah, aku sedang tidak ingin marah. Untuk kali ini aku akan persilakan kau bicara, singkat saja.'' tungkasku

Terima kasih Tuan. Anda ini terlalu khawatir, sebaiknya Anda biarkan pikiran anda membentang luas ''Be Positif Thinking. Tak ada yang perlu dicemaskan disana. Semuanya akan baik-baik saja.


Hei, nurani, Kau bicara semudah itu seolah-olah amat mudah melakukannya seperti mengedipkan mata. Kau itu tak tahu bagaimana rasanya jiwaku ini yang begitu menyanyanginya, Aku begitu cemas disini.'' potongku

Tuan salah, ingat kata-kata Anda diatas, bukankah Tuan bilang saya ini bagian terkecil dari Anda ? Iyakan Tuan. Jelas saya pun merasakannya.'' timpa nurani


Hmmm.. Mungkin kau benar nurani'' balasku dengan menundukan kepala.

Yakinlah akan tulus kasihnya. Jangan biarkan ego mempengaruhi Anda, sebab yang demikian itu hanya akan membawa kerugian. Untuk sementara diamlah dulu. Biarkan waktu yang memanggil rasanya pada Anda hingga menguap dan dirinyalah yang akan berbalik merasakan apa yang Anda rasakan sekarang ini.'' lanjut nurani


Begitukah nurani ? tanyaku untuk lebih meyakinkan perkataannya

''Iya Tuan, itu jauh lebih baik, daripada Anda berpikir yang tidak-tidak. Tak ada gunanya semua itu yang ada hanya akan menambah kegundahaan saja.'' tambah nurani


Ya sudah, akan aku coba mengikuti nasihatmu itu, terima kasih. Silakan kau kembali ke dalam relung.'' perintah ku

Perasaanku mulai tenang, apa yang dikatakan oleh nurani itu benar adanya. Mulai sekarang aku sebaiknya mengungkapkan keluhku padanya. Aku akan musuhi egoku sendiri sebab si ego itu benar-benar penghasut kelas kakap dan pengompor ulung, Ocehannya hanya membawaku pada keresahan semata yang tak beralaskan fakta.


@GHeartTone
Egoku mulai berbisik. Tak kugubris, malah kubuat satu perwujudan diriku yang sedang mengacungkan jari tengah padanya. Pada Egoisme !